JEROAN GEDE KURUBAYA

SELAYANG PANDANG TENTANG JEROAN GEDE KURUBAYA

Prakata Penulis
Om Swastiastu,
Pada hari minggu yang cerah pukul 09.10 wita tanggal sembilan september tahun dua ribu enam belas, penulis duduk depan komputer buka-buka internet terbesit keinginan untuk menulis sekilas tentang keberadaan “ JEROAN GEDE KURUBAYA”, dengan menghatur puja dan puji syukur kehadapan tuhan yang maha esa serta  para leluruh “JEROAN GEDE KURUBAYA” semoga apa yang penulis tulis nanti diberikan tuntunan sehingga tulisan ini bermanfaat khusus bagi parisentana “ JEROAN GEDE KURUBAYA” dan para pembaca pada umumnya.
Penulis sangat menyadari, tidak memiliki kemampuan untuk menulis, namun demikian keiinginan penulis untuk dapat menginformasikan tentang keberadaan “JEROAN GEDE KURUBAYA” kepada  parisentana sangat besar,  sehingga penulis mencoba merangkai kalimat demi kelimat tentang perjalanan kehidupan keluarga, pengelingsir dan leluhur “JEROAN GEDE KURUBAYA”
                Tulisan ini penulis  persembahkan khusus kepada Istri, anak, mantu, cucu-cucu yang tercinta dan parisentana keluarga ‘JEROAN GEDE KURUBAYA” dengan maksud agar dapat mengetahui dan memahami tentang perjalanan keluarga besar ‘JEROAN GEDE KURUBAYA”
                Penulis minta maaf yang kepada yang pihak terkait dengan tulisan ini jika ada hal yang kurang berkenan dan tidak sesuai dengan fakta  hal ini karena keterbatasan dari pada penulis untuk mengungkapkan fakta-fakta sejarah dari keluarga, untuk ini penulis mohon kritik dan saran dan informasinya agar tulisan ini dapat berguna bagi parisentana khususnya “ JEROAN GEDE KURUBAYA”
Om Santi santi santi Om
               

“ KISAH PERJALANAN LELUHUR ”
                Keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang asal muasal dari keluarga jeroan sangat terbatas, sumber dan nara sumbernyapun  juga sangat terbatas, maka penulis berharap suatu saat baik penulis maupun pembaca khususnya keluarga’ “JEROAN GEDE KURUBAYA “ mendapatkan sumber maupun nara sumber yang  bisa menjelaskan lebih komprehensif tentang asal muasal serta perjalanan “LELUHUR GEDE KURUBAYA” sebelum penulis menceritakan tentang nama-nama dan kisah perjalanan dan kehidupan leluhur  penulis mohon ampun kepada leluhur semoga penulis tidak mendapat kutukan/raja pinulah atas keberanian penulis menyebut nama dan menceritakan kisah perjalanan dan kehidupan leluhur pada masa lampau.
                Maksud dari penulis menceritakan tentang kisah perjalanan leluhur jeroan gede kurubaya adalah agar seluruh parisentane/ keturunan dari keluarga jeroan gede dapat mengetahui kisah perjalanan dan kehidupan lelulur dan pengelingsir keluarga jeroan gede kurubaya, yang mengalami lika liku perjalanan kehidupan pada masa lampau, sehingga bisa dipakai pedoman dalam menjalani kehidupan pada masa sekarang. Kisah perjalanan dan kehidupan leluhur dan pengelingsir pada masa lalu tentu mengalami berbagai situasi ada masa sulit dan masa mudah.
                Penglingsir “ JEROAN GEDE KURUBAYA” Guru I Gede Regug, Guru Nyoman Rai Pageh, Guru Gede Giri dan Niluh Nyoman Jati, pernah menceritakan kepada penulis bahwa asal muasal “ JEROAN GEDE KURUBAYA” perjalanannya berangkat dari desa panjer denpasar, menuju kurubaya untuk membuka lahan pertanian dan pemukiman, setelah memiliki cukup lahan dan pemukiman, karena pada masa itu kurubaya adalah masih berupa hutan belantara dengan pohon-pohon besar, selanjutnya leluhur mengembara untuk mencari pekerjaan di desa sandakan petang badung, beberapa waktu menetap di desa sandakan di rumah keluarga I Wayan Sukaning dan lahir disana I GEDE SANDAKAN, sepeninggal leluhur / orang tua I Gede  Sandakan, kemudian I Gede Sandakan kembali  pulangkekurubaya sampai sekarang, pekerjaan penglingsir sebagai petani/perkebunan dan tukang bangunan. I Gede Sandakan menikah dengan pengelingsir dari jeroan mangku dalem tegal, dari pernikahannya lahirlah Niluh Tampe, I Gede Panjer dan Niluh Landung, Niluh Tanpe menikah dengan pengelingsir Jeroan Tengah Kurubaya dan Niluh Landung menikah ke Perang Alas karena suaminya meninggal kembali pulang ke rumah Jeroan Kurubaya. Adapun sebagai warisan yang ditinggalkan oleh leluhur I Gede Sandakan adalah Tanah Pekarangan Jeroan Kurubaya, Tanah Carik Aban, Tanah Carik Dangin Tegalan, Tanah cari Dajan dan dangin setra desa Adat Perang
“ KISAH KEHIDUPAN KELUARGA GEDE KURUBAYA PADA JAMAN BELANDA TAHUN 1980 “    
Penulis mendapatkan nama dan silsilah keluarga, baru dari pengelisir “I GEDE SANDAKAN “ dalam kisah ini penulis hanya menceritakan kisah perjalanan kehidupan pengelingsir dari “ I GEDE PANJER “. Dapat penulis ceritakan selanjutnya kisah perjuangan dan perjalanan kehidupanan beliau : Pengelingsir  I Gede Panjer menikah dengan Niluh Nelo berasal dari banjar kurubaya juga yaitu pengelingsir dari rumah I Ketut Sukra, dari pernikahannya lahir enam orang anak yaitu : anak pertama I Gede Regug anak kedua Niluh Made Rajeg anak ketiga I Gede Nyoman Rai Pageh anak keempat Niluh Ketut Jata anak ke lima I Gede Giri dan anak ke enam Niluh Nyoman Jati.
 I Gede Panjer dan Niluh Nelo adalah pasangan keluarga yang sehat harmonis dan berbahagia karena I Gede Panjer sangat menyayangi dan mencintai Niluh Nelo demikian juga halnya dengan Niluh Nelo sangat menghormati dan mencintai I Gede Panjer. Mereka hidup penuh kerukunan, kedamaian dan kebahagiaan kerena mereka saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya, demikian juga dengan ke enam anak-anaknya yang sangat patuh kepada oarang tuanya dan sangat rukun dengan saudara-saudaranya, anak yang lebih tua selalu menjaga dan melindungi adik-adiknya,  tidak ada hari dan waktu tanpa canda ria dan ketawa terdengar di tengah-tengah keluarga ini. Sekali-kali terdengar juga tangisan dari anak-anak mereka karena ada yang nakal menggoda saudaranya, dan juga karena tidak tersedianya makanan di rumah karena ditinggal bekerja diluar rumah oleh kedua orang tuanya untuk mendapatkan sekilo beras dan umbi-umbian untuk dimasak.
Dengan bermodalkan kesehatan, kerukunan dan keharmonisan rumah tangga dan keluarga mereka bekerja penuh semangat dan keuletan. I Gede Panjer bekerja sebagai petani dan tukang bangunan sedangkan Niluh Nelo adalah pekerja keras dan sangat ulet sebagai pedagang kaki lima, dagangan yang mereka jual adalah pagi berjualan Nasi bubuh dan siang hari berjualan rujak tibah.
Kisah tentang Niluh Nelo yang sering dipanggil  Nini/Uwe Cuk, Pada sore hari Nini Cuk habis menjajagan dagangan berupa Rujak Tibah/mengkudu di sawah-sawah ditempat orang mengetam padi, langsung mencari bahan dagangan untuk Nasi bubuh seperti sayur, daun dan bumbu-bumbuan dan bahan Rujak Tibah seperti tibah, lunak/celagi demikianlah kegiatan Nini cuk setiap harinya, sedangkan I Gede Panjer bekerja kesawah sebagai petani yang ulet, dari hasil panen sebagai petani mereka membesarkan dan mendidik anak2 mereka ber  enam dengan dasar saling menghormati menghargai dan patuh pada orang tua, sedangkan saudara yang lebih tua melindungi adiknya penuh dengan tanggung jawab demikian juga dengan adik-adiknya sangat hormat dan pada kakaknya.
Uwe Cuk menjajagkan dagangannya rujak tibah keliling sawah dimana ada orang memanen /mengetam padi, panen jagung, panen ketela, kacang, dan yang lainnya, hasil berjualanannya tidak langsung mendapatkan uang tetapi mendapatkan hasil panen disawah/dikebun berupa pada , ketela, jagung dan lainnya, karena saat itu susah mendapatkan uang, disini jual beli dengan menggunakan sistem barter. Karena hasil dagangannya tidak bisa diangkut sendiri kerumah, maka Uwe Cuk di jemput kesawah oleh suaminya, mereka pulang bersama berjalan disepanjang pematang sawah sambil memikul barang-barang hasil berjualan/hasil barternya, dengan penuh kebahagian, rasa lelah tidak pernah terasa karena mereka sambil melantunkan tembang-tembang sinom disepanjang perjalanannya, sampai dirumah merekan disambut oleh anak-anaknya penuh kebahagian. Kegiatan ini mereka jalan hari demi hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun tidak terasa, anak-anaknya tumbuh semakin dewasa semua dan mulai bisa membantu kegiatan orang tuanya. Dengan semakin dewasanya anak-anak mereka, anak-anak juga sudah mulai bisa bekerja membantu orang tuanya secara bersama-sama, dengan demikian mereka sudah bisa mulai menyisihkan hasil dagangannya sisa untuk di konsumsi, untuk dijual,uang-uang hasil penjualannya mereka untuk disimpan.
Setelah mereka memiliki cukup uang mulailah mereka untuk menggadai sawah orang dan untuk digarap bersama anak-anaknya, ekonomi keluarga semakin membaik, waktu terus berjalan akhirnya mereka bisa mulai  membeli  tanah carik Ume Bantas yang kita warisi sampai sekarang.
Kalau kita lihat perjalanan dan kisah kehidupan keluarga I Gede Panjer dan Niluh Nelo penuh dengan perjuangan yang didasarkan atas cinta  kasih, saling menghormati dan menghargai, patuh, taat  dan kedamaian, maka penulis dapat katakan warisan yang kita terima sekarang warisan yang didapat dari jerih payah penuh perjuangan dengan cinta kasih, dan dipake membesarkan anak-anaknya, sehingga menjadi anak yang suputra berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Adapun warisan yang ditinggalkan oleh keluarga  I Gede Panjer dengan Niluh Nelo berupa tanah Karang sekarang sebagai Areal “JEROAN GEDE KURUBAYA”, Tanah Carik di subak Aban, Tanah Carik diutara setra Adat Perang, Tanah carik Labak, Tanah Carik dangin tegalan, tanah carik bantas,yang luasnya seluruhnya kurang lebih dua hektar.  Pengelingsir Guru Gede Panjer dengan tegas memberikan tanggung jawab masing-masing kepada anaknya tentunya dengan landasan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Walaupun anak-anaknya sudah menikah kehidupan keluarga masih menggunakan manajemen komonal yaitu bekerja bersama hasilnya dijadikan satu untuk dinikmati bersama menjadi milik bersama pula. Demikianlah kisah perjanan kehidupan “ I GEDE PANJER dengan NILUH NELO “, yang dapat kita jadikan dasar panutan dalam menjalani kehidupan kita sesuai perkembangan jaman yang akan selalu berubah.

“ KISAH PERJALANAN KEHIDUPAN GENERASI KETIGA KELUARGA JEROAN GEDE KURUBAYA “
I Gede Panjer dan Niluh Nelo berputrakan enam orang, seperti penulis telah ceritakan nama-namanya sebelumnya, Pendidikan dan pakem-pakem keluarga yang diberikan oleh I Gede Panjer kepada anak-anaknya sangat dipatuhi oleh anak-anaknya, yaitu anak-anak harus patuh pada orang tua dan adik-adiknya harus patuh dan menghormati kakaknya demikian juga sebaliknya sebagai kakak selalu melindungi dan menyayangi adik-adiknya.
                 Guru Gede Regug sebagai anak tertua diberikan mandat oleh Pengelingsir untuk memimpin adik-adiknya dan memikul beban dan tanggung jawab keluarga besar “JEROAN GEDE KURUBAYA” setelah I Gede Panjer dan Niluh Nelo sudah tua dan tidak mampu masih memikul tanggung jawab dan beban keluarga. Anak-anak mereka sudah menjadi anak dewasa dan mulai menikah, jumlah anggota keluarga Jeroan Gede Kurubayapun semakin banyak dengan karakter keluarga makin beragam, membutuhkan manajemen dan pemimpin keluarga yang lebih bijak. Setelah cukup umur maka I Gede Regug Menikah dengan pengelingsir dari perang alas dirumah pan kembur yang bernama Ni Wayan Margi yang diberi pungkusan/dipanggil Luh Tanjung  sebagai istri pertama melahirkan  Niluh Badri, I Gede Badra dan Niluh Nyoman Patrem,  Niluh Nyoman Menyol sebagai istri kedua yang berasal dari Jeroan Kanginan Kurubaya melahirkan I Gede Putu Wirata, I Gede Nyoman Rai Pageh menikah dengan Niluh Kompiang berasal dari Jeroan Gede Ngurah Kurubaya melahirkan Niluh Made Kari, Niluh Putu Nadi Asih, Niluh Nyoman Asih, I Gede Giri menikah dengan Siluh Rida beasal dari Jeroan Gede Anggungan melahirkan I Gede Putu Sumendra, I Gede Rai Mandia, Niluh Nyoman Yuniasih dan I Gede Ngurah Sunatha, sedangkan saudara perempuan Niluh Made Rajeg menikah dengan I Gede Gongsor Jeroan Kanginan Kurubya, Niluh Ketut Jati menikah dengan Si Gede Jantri Jeroan Tengah Tegal, Siluh Nyoman Jati tidak menikah, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada silsilah jeroan gede kurubaya. Karena di Jeroan Tengah tidak ada lahir anak laki-laki maka atas permintaan pengelingsir jeroan tengah I Gede Sumendra dinikahkan dengan Niluh Gede dan Nyentana di Jeroan Tengah Kurubaya

“ KISAH PERJALANAN I GEDE REGUG SEBAGAI TOKOH YANG DI SEGANI “
                Sebagai kakak tertua Guru  Gede Regug sangat di segani oleh adik-adiknya dan juga menjadi tokoh masyarakat banjar adat kurubaya yang sangat disegani. Ketokohan dan kemampuan beliau sangat mumpuni sebagai tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh sepiritual dan banyak punya pengikut/murid dan berobat.
                Guru I Gede Regug sebagai pemimpin keluarga menerapkan manejemen keluarga yang berlandaskan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh yang diwariskan oleh orang tuanya, walau adik-adiknya sudah menikah mereka tetap bersatu, tidak membangun keluarga mandiri masing-masing, dengan menajemen dan pembagian tugas yang jelas, semua bekerja bersama-sama sesuai tugasnya seperti adik2nya, ipar2nya, anak2nya, mantunya ada berkerja sebagai petani dan peternak, berdagang  semua hasil dari pekerjaan tersebut dijadikan satu, menjadi milik bersama yang digunakan untuk memenuhan keluarga besara seperti biaya konsumsi, meyadnya, membangun dan berinvestasi.
Guru I Gede Regug sebagai kakak tertua dan sebagai pemimpin keluarga sangat bijak didalam memimpin dan  mengayomi seluruh anggota keluarga, beliau tidak membedakan-bedakan mana anak kandungnya mana keponakannya diberikan perhatian dan pendidikan yang sama sesuai kemampuan kemauan dan bakatnya masing-msing. Dalam perjalanan kepemimpinan beliau manajemen keluarga berjalan baik, sampai akhir ada gangguan ilmu leak,  yang mengusik kedamaian keluarga berupa, sehingga keluarga sangat terganggu, diyakini saat itu ada seseorang menggunakan ilmu leak bali untuk mengganggu anak-anak, sampai banyak yang sakit dan bahkan meninggal. Disini Guru Gede Regug merasa jengah tidak bisa melindungi keluarga, kemudian beliau memanggil saudara-saudaranya diajak berembuk mencari jalan keluar terhadap permasalahan ini, kemudian dari hasil rembuk beliau dengan saudaranya,  didapat kesimpulan bahwa beliau mencari guru untuk belajar sepiritual dan kebatinan agar dapat melindungi keluarga jeroan kurubaya dari gangguan-gangguan ilmu hitam leak, beliau belajar terus mengisi diri dari guru yang satu ke guru yang lainnya dengan waktu bertahun-tahun meninggalkan kegiatan rumah, tidak bekerja lagi sebagai petani maupun undagi/tukang bangunan, untuk memenuhi kebutuhan akan sandang dan pangan keluarga besar pada saat itu  saudara-saudaranyalah yang ditugaskan yaitu dengan mengolah tanah sawah yang telah di wariskan oleh orang mereka.
Sebagai pimpinan keluarga jeroan kurubaya sepeninggal Guru I Gede Regug belajar/berguru ditugaskan Guru Nyoman Rai Pageh untuk memimpin keluarga bekerja mengolah sawah-sawah, karena Guru Nyoman Rai Pageh memahami tentang ilmu teknologi pertanian dan perkebunan/palawija, keluarga patuh atas kepimpinan Guru I Gede Nyoman Rai Pageh dan kebutuhan keluarga akan sandang dan pangan tercukupi.
Setelah Guru I Gede Regug merasakan sudah cukup ilmunya untuk melindungi keluarga besar jeroan kurubaya, maka beliau kembali ke tengah-tengah keluarga untuk memimpin kembali keluarga besar jeroan kurubaya. Diyakini saat itu ada salah seorang pengelingsir perempuan keluarga jeroan yang memiliki ilmu leak, dimana pegelingsir ini sudah menikah keluar kemudian cerai kembali pulang kerumah sebagai janda tua yang tinggal di rumah yang bernama Niluh Landuh, Niluh Landuh  merupakan saudara/adik kandung dari pengelingsir I Gede Panjer, sengaja atau tidak ilmu leak yang mereka miliki beliau telah mengganggu keluarga, diyakani setiap lahir anak laki-laki dari Keluarga Guru Nyoman Rai Pageh sakit dan meninggal, ilmu leak itulah penyebabnya. Kemudian lahir anak pertama laki-laki dari Guru I Gede Giri juga sakit, akhirnya anak laki-laki ini diangkat/diidih oleh Guru I Gede Regug sebagai anaknya agar beliau dapat melindungi jiwa anak ini, anak yang dimaksud adalah Guru Mangku I Gede Putu Sumendra. Karena I Gede Putu Sumendra ini  ada sekarang dalam lindungan Guru I Gede Regug masih dicoba diganggu oleh ilmu leak ini, maka Meluh Landuh di usir dari pekerangan jeroan gede kurubaya dan kemudian membuat kubu/rumah di tebe kangin tanah milik keluarga Pak Jigeh/Pak Sugi.
Disini diceritakan terjadi tantangan dari Guru I Gede Regug kepada Meluh Landuh untuk adu Ilmu agar tidak terus mengganggu keluarga jeroan kurubaya, Meluh Landuh kalah dalam adu ilmu dan akhirnya meninggal. Sepeninggal Meluh Landuh keluarga jeroan kembali damai, sedangkan Guru I Gede Regug terus mengisi diri dan memantapkan ilmu-ilmu yang telah didapat dari para guru-gurunya. Beliau disamping  belajar ilmu kebatinan juga mempejari ilmu pengobatan, mulailah beliau memberikan pertolongan pengobatan kepada keluarga jeroan, masyarakat kurubaya kemudian terus masyarakat disekitar banjar mulai banyak yang minta perolongan kepada beliau dan akhir terdengar luas tentang keberhasilan beliau dalam pengobatan dan ilmu kebatinan.
Disamping karena kemampuan beliau Guru Gede Regug juga orang yang sangat dermawan dan bijaksana sehingga beliau sangat di segani oleh para tokoh-tokoh masyarakat, beliau juga menjalin hubungan dengan para tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh jeroan-jeroan, tokoh puri mengwi sehingga beliau bisa mengangkat dan mensejajarkan keberadaan Jeroan Gede Kurubaya dengan Jeroan-Jeroan yang ada di desa sekitarnya.
Kemampuan Ilmu kebatinan beliau terdengar luas, seijin dan restu guru-guru beliau, Guru I Gede Regug karena desakan masyarakat yang ingin belajar pada beliau maka beliau mengajarkan ilmu yang beliau dapatkan dari guru-guru beliau kepada masyarakat yang membutuhkan. Beliau memiliki Puluhan ribu murid dari berbagai kalangan. Pada setiap hari purnama kedasa para muridnya berkumpul untuk memantapkan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dengan istilah “ NYEPUH “ atau mengasah ilmu.
Beliau sangat memperhatikan pendidikan baik pendidikan formal berupa sekolah maupun yang tidak formal anak-anak dan selalu memperhatikan dan dapat melihat bakat, kemampuan dan pontensi, sehingga beliau memberikan dan mengirim anak-anak ketempat pendidikan, misalkan I Gede Badra di didik di Puri Mengwi,I Gede Putu Sumendra belajar Pertukangan di pekak Suwitra perang lukluk,  I Gede Rai Mandia ke Puri Mecutan. I Gede Rai Mandia disamping bekerja di Puri juga menekuni pendidikan Pormal bersekolah, I Gede Putu Wirata pendidikan Modes/Penjahit, Niluh Nyoman Patrem belajar berdagang, Niluh Putu Nadiasih belajar berdagang, Nyoman Yuniasih dan Niluh Nyoman Asih belajar berdagang, semua anak-anak dengan penuh ketekunan belajar mengisi diri sesuai dengan bidang dan bakatnya masing-masing, selanjutnya anak-anak bekerja sesuai profesinya masing-masing dalam manajemen keluarga yang masih “KOMONAL”

“ KISAH MASA PERALIHAN KEHIDUPAN KELUARGA JEROAN YANG KOMOMAL MENUJU MANDIRI DI TAHUN 1990 “
Seiring perjalanan waktu dan terus bertambahnya jumlah anggota keluarga jeroan, Guru I Gede Regug yang sudah semakin tua sedangkan tanggung jawab dan permasalahan yang semakin komplek karena perkembangan jaman, sedangkan manajemen yang digunakan untuk mempersatukan keluarga jeroan gede kurubaya masih manajemen  di wariskan oleh orang tua beliau, sehingga sering terjadi friksi-friksi internal karena merasa tidak adil, merasa paling tuyuh/capek, merasa tidak puas akan cara-cara kehidupan seperti ini, tapi karena kepatuhan seluruh anggota keluarga kepada pemimpin maka kehidupan keluarga yang bersatu tetap berjalan.  
Diceritakan disini juga salah satu anggota keluarga yang paling berjasa meningkatkan ekonomi keluarga  adalah Siluh Nyoman Patrem, karena beliau adalah pedagang yang sangat ulet dan sangat sukses. Beliau disamping sebagai pedagang juga bekerja kesawah kekebun tanpa mengenal lelah, dengan keberadaan dan kemampuannya, beliau sangat disegani oleh seluruh anggota keluarga termasuk pemimpin keluarga Guru  I Gede Regug, keuletan beliau dalam bekerja patut kita jadi panutan dan tiru dalam menjalani kehidupan kita, pada masa sekarang.
Pada masa itu dibawah kepemimpinan dan ke tokohan I Gede Regug keluarga jeroan kurubaya berhasil meningkatkan ekonomi keluarga jeroan kurubaya dan dapat berinvestasi berupa pembelian tanah tegalan seluas kurang lebih tiga hektar dan tanah carik kurang lebih dua puluh are di ume diwang dauh jalan, membeli tanah di jalan suli denpasar seluas dua are, membeli tanah di ubung seluas kurang lebih 3,5 are, pembelian tanah dilukluk seluas 4 are dan tanah carik 6 are di dam anggungan khusus untuk tanah di dam anggungan ini didapat dengan cara  membayar gegadean carik jeroan gede anggungan pada pihak ketiga, pada saat itu oleh pengelingsir jeroan gede anggungan memerintahkanlah Siluh Rida untuk menebus gegadean tanah tersebut,agar bisa membesarkan  anak-anaknya,  hal ini disampaikan oleh Siluh Rida kepada pemimpin keluarga, tanah gegadean tersebut akhirnya ditebus. 

                Kisah perjalanan waktu selanjutnya adalah menunjukan dengan semakin banyaknya anggota keluarga jeroan kurubaya,  perkembangan jaman dan Guru I Gede Regug usia semakin bertambah, seiring semakain bertamabahnya umur tentunya kemampuan sesorang baik phisik maupun mental akan semakin menurun, demikian juga dengan halnya kemampuan untuk memimpin keluarga, friksi-friksi  akibat merasa tidak mendapat  apresiasi, merasa  dipersamakan dengan anggota yang tidak memiliki kempuan,  semakin menjadi-jadi yang berakibat atmosfier keluarga terasa meningkat, setiap anggota merasakan kedamaian semakin jauh, hal ini kurang dapat rasakan oleh pemimpin. Momentum ini dimanfaatkan  beberapa keluarga mencoba untuk mengusulkan bisa hidup mandiri namun hal ini tidak mendapat restu dari pemimpin dan ditentang oleh keluarga yang lain, sampai sempat keluarga I Gede Putu Wirata,  meninggalkan rumah untuk mencoba hidup mandiri beberapa waktu. I Gede Putu Wirata meninggalkan jeroan dan tinggal berpindah-pindah,  cukup lama dapat tinggal di jeroan kanginan kurubaya bahkan sampai mau di idih/diminta oleh pamannya I Gede Kania kakak dari ibunya/Siluh Nyoman Menyol namun tidak mendapat ijin dari orang tuanya yaitu I Gede Regug, dan akhirnya kembali kerumah karena pemimpin meminta keluarga I Gede Putu Wirata kembali pulang, hal ini terjadi berulang-ulang pulang pergi karena setiap sampai kembali di rumah tidak adanya perubahan suasana kedamain yang dirasakan. Situasinya ini berlangsung bertahun-tahun rasa kedamaian dan keadilan dirasa semakin jauh dirasakan oleh beberapa keluarga, sampai ada yang menangis setiap malam mendengar kata-kata yang kurang pantas dan menyakitkan perasaannya sesonggan bali/pantun bali “ sewai megaleng yeh mate “ artinya setiap hari tidur berbantalkan air mata, namun mereka tidak berdaya untuk bangkit/lepas dari situasi ini, karena mereka tidak punya kemampuan dan keberanian.

“ KISAH MASA PERJUANGAN  MENUJU KEHIDUPAN KELUARGA JEROAN YANG MANDIRI  “

                Cita-cita untuk bisa kehidupan yang mandiri melalui perjuangan yang panjang panjang, dengan mengadakan pembaharuan/reformasi ditahun 1979
Kehidupan keluarga dengan manajemen Komonal dirasa sudah tidak sesuai di terapkan lagi di keluraga jeroan kurubaya pada saat itu karena dengan jumlah anggota keluarga yang sudah banyak dengan beraneka ragam asal keluarga  bergabung menjadi satu dengan karakter yang berbeda tentu akan menimbulkan perbedaan pandangan, gaya dan cara yang berbeda pula,artinya anggota keluarga jeroan kurubaya sudah sangat hetorogen,  hal ini sangat sulit untuk tetap bisa menerapkan manajemen komonal yang diwariskan oleh pengelingsir, sangat berbeda halnya dengan masa saat anggota keluarga yang masih homogen.
Dengan situasi yang semakin kurang nyaman dirasakan oleh keluarga I Gede Putu Wirata, maka I Gede Putu Wirata dengan dukungan I Gede Rai Mandia memberanikan diri memohon kepada Guru I Gede Regug selaku pemimpin keluarga untuk bisa hidup mandiri di tengah-tengah keluarga jeroan gede kurubaya secara berdampingan. Kehidupan keluarga mandiri yang dibangun oleh I Gede Putu Wirata saat itu beranggotakan saat itu :  Niluh Nyoman Menyol Ibu dari  I Gede Putu Wirata, Siluh Putu Nama Istrinya dan anak-anaknya, tetap mendapat tantangan dan cemohan, tetapi mereka dengan penuh kesabaran menerima cemohan terutama Niluh Nyoman Menyol demi tetap utuhnya keluarga mandiri yang dibangun oleh I Gede Putu Wirata.
Situasi di tengah-tengah keluarga besar juga belum dirasakan nyaman oleh keluarga I Gede Giri, karena I Gede Giri mulai sering sakit-sakitan, sakitnya I Gede Giri demam, gangguan lambung, rasa cemas, ketakutan, kesiab-kesiab, sehingga beliau berhari-hari dan bahkan bisa sampai bulanan di kamar saja, sehingga Siluh Rida sebagai istrinya selalu menerima cemohan karena suami tidak bisa bekerja hanya bisa makan saja sedangkan memiliki anak2nya banyak sehingga keluarga yang lainnya merasa terbebani,  cemohan-cemohan dan penderitaan demi penderitaan yang di rasakan terus berlangsung, namun Siluh Rida menjalani kehidupan yang penuh tekanan dengan sabar demi untuk keutuhan keluarga dan keberhasilan anak-anaknya.
Situasi masih terus sampai akhirnya I Gede Rai Mandia sebagai satu-satunya keluarga saat itu yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi saat itu dan sudah bekerja dipemerintahan, tentu memiliki pengalaman dan wawasan kedepan yang lebih banyak dan lebih luas yang komprenhensif. Beliaulah pertama kali memohon kepada pemimpin keluarga saat itu yaitu Guru Gede Regug agar manajemen keluarga dapat dirubah dari kehidupan yang “ KELUARGA KOMONAL “ menuju “ KEHIDUPAN KELUARGA MANDIRI “ sesuai tuntutan perkembangan jaman dan situasi keluarga yang kurang kondusif, kelihatan utuh dari luar tetapi didalam banyak friksi-friksi merasa ketidak adilan, ketidak puasan diantara anggota yang suatu saat kalau tetap seperti saat itu bisa menjadi bencana keluarga. Karena tidak setiap anggota keluarga merasa merdeka tetapi beberapa ada yang merasa merdeka dengan kata lain ada yang merasa dijajah tetapi tidak ada yang merasa menjajah.
Permohonan I Gede Rai Mandia saat itu ditolak tegas bahkan sempat mendapat makian karena emosi sesaat yang tidak terkendali dari pemimpin keluarga dengan mengatakan apakah itu pelajaran yang didapat dari bersekolah tinggi-tinggi,  guru merasa rugi mensekolahkan Rai dan keluarga lainnya juga ikut mencemoh I Gede Rai Mandia atas permohonannya itu, I Gede Rai Mandia tidak patah arang saat permohonannya di tolak. Permohonan I Gede Rai Mandia saat itu adalah agar masing-masing pengelingsir bisa membangun keluarga mandiri dan diberikan hak dan kewajibannya masing-masing yaitu Keluarga Guru I Gede Regug, keluarga I Gede Ngoman Rai Pageh, keluarga I Gede Giri dan Niluh Nyoman Jati karena saudara perempuan bisa memilih/mengikuti salah satu saudara laki-lakinya. Penolakan yang dilakukan pemimpin keluarga dikira permohonan ada maksud terselubung I Gede Rai Mandia untuk menuntut hak waris. Atas makian dan penolakan itu I Gede Rai Mandia berucap tidak menuntut haknya hanya memberikan usulan saja agar kehidupan keluarga bisa lebih mandiri tidak ketergantungan atau menggantungkan dirinya kepada keluarga yang lain, Rai berucap dan memohon kalau begitu halnya saya mohon doa restu saja akan bekerja kalau saya berhasil saya akan pulang membangun keluarga kembali.
Kemudian setelah I Gede Rai Mandia berhasil menyisihkan penghasilannya sisa untuk kebutuhan pokok keluargany, Rai kembali datang memohon kepada pemimpin keluarga agar permohonannya dulu dikabulkan, karena pemimpin keluarga melihat apa yang diucapkan Rai sudah di wujudkan yaitu membangun angkul-angkul tembok penyengker dan yang lainnya tanpa meminta biaya dari keluarga, semua itu dibiaya sendiri akhirnya pemimpin keluarga dapat mengabulkan permintaannya.
Saat itu terbentuklah keluarga mandiri yang memberikan harapan adanya kebebasan, rasa kemerdekaan,  berkerja sesuai profesinya, dan keluarga yang damai rukun bahagia tanpa ada yang merasa tertekan saat itu yaitu : 1. Keluarga Guru  I Gede Regug dengan anggota saat itu : I Gede Badra, Niluh Nyoman Regig  I Gede Putu Yasa, I Gede Sukarma, Niluh Nyoman Mariati, Siluh Nyoman Patrem, Siluh Nyoman Jati, 2. Keluarga Guru I Gede Nyoman Rai Pageh dengan anggota saat itu : I Gede Nyoman Rai Pageh, Siluh Putu Nadi Asih dan Siluh Nyoman Asih, 3. Keluarga Guru I Gede Giri dengan anggota saat itu : Guru I Gede Giri, I Gede Rai Mandia, I Nyoman Yuniasih, I Gede Ngurah Sunatha, Siluh Rida,  Keluarga I Gede Putu Wirata dengan anggota saat itu : I Gede Putu Wirata Niluh Nyoman Menyol, Siluh Putu Nama, Siluh Putu Wahyuni.

“ KISAH MASA PERALIHAN KELUARGA KOMONAL MENUJU KELUARGA MANDIRI “
Dengan dapat dikabulkan permohonan dari I Gede Rai Mandia oleh Pemimpin keluarga Guru I Gede Regug, sebagai dasar untuk bisa hidup mandiri maka dibagikan hak dan kewajiban kepada masing-masing pemimpin keluarga mandiri oleh Guru I Gede Regug. Dari cerita sebelum Guru I Gede Regug adalah orang yang sangat bijaksana, saudara-saudaranya sangat patuh kepadanya, apa yang dibagikan oleh I Guru Gede  Regug dapat diterima dengan rasa syukur, walaupun rasa adil belum dirasakan karena ada keluarga yang melihat saat kita masih bersatu seluruh kekayaan baik yang berasal dari warisan Pengelingsir I Gede Panjer dan Niluh Nelo dan hasil berupa harta  kekayaan yang diperoleh pada saat masih bersatu dibagi sama, ada yang menginginkan hasil harta  kekayaan yang diperoleh saat adalah berkat jasanya maka mestinya mereka yang mendapat lebih banyak, hal ini menimbul silang pendapat yang cukup ruwet untuk diselesaikan.
Atas kebijakan Guru I Gede Regug maka harta yang didapat dari Pengelingsir I Gede Panjer dan Nilluh Nelo dibagi secara merata kepada saudara-saudaranya, sedangkan harta yang diperoleh pada saat kepemimpinannya dibagi secara proporsional berdasarkan prestasi/jasa anggota keluarga pada saat itu, sikap dan  kebijaksanaan ini dirasa memihak kepada salah seorang anggota keluarga  saja oleh saudaranya maka akhirnya setelah diberikan pengertian oleh Guru I Gede Regug dapat dimengerti dan di terima, karena hanya tuhan yang tau yang mana  keadilan sesungguhnya, harta hanya titipan dan sementara karena kalau beliau menghendaki itu akan diambil kembali olehNya, itulah kata binjak yang di sampaikan oleh Guru I Gede Regug sebagai orang bijak dan pemimpin keluarga.


“ CATATAN PEMBAGIAN WARIS  PENGELINGSIR/LELUHUR “
Waris dimaksudkan disini berpengertian Hak dan Tanggung Jawab, yang berupa hak adalah  pembagian harta yang merupakan waris dari Pengelingsir I Gede Panjer dan Niluh Nelo  saat itu dilakukan hanya secara tersirat saja belum tersurat/tertulis, disebutkan saat itu  “ pada ngingetan “ tidak untuk dimiliki secara mutlak. Guru I Gede Regug Ngingetan Ume Carik Dangin Tegalan dengan luas 5.150M2, Guru I Gede Nyoman Pageh Ume Carik Aban seluas 4.500 M2, Guru I Gede Giri Ume Carik Dajan Setra Perang seluas 3.500M2, sedang Niluh Nyoman Jati di Carik Ume Labak seluas 1.900M2 ditambah Carik Ume diwang Dangin setra Perang 900M2 dan di carik dam anggungan seluas 600m2, sedangkan Carik Ume bantas seluas 4.500 M2 dipakai sebagai palak merajan
Sedang waris berupa kewajiban adalah tanggung jawab yang harus dipikul secara melekat oleh seluruh keluarga keturunan dan parisentane jeroan gede kurubaya secara proporsional berdasarkan hak yang didapatkan, kewajiban dan tanggung jawab tersebut adalah Upacara dan upakara secara agama hindu yang merupakan sungsungan pengelingsir/leluhur berupa pura/parihyangan dan melestarikan keberadaan jeroan gede kurubaya baik secara moril maupun materiil, secara moril menjunjung dan manjaga martabat keluarga jeroan, secara materiil menjaga mengembangkan  melestarikan bangunan-bangunan baik parihyangan maupun perumahan dan pekarangannya.

“ CATATAN PEMBAGIAN HARTA YANG DIPEROLEH PADA MASA KOMONAL “
Pembagian harta yang di peroleh pada masa masih bersatu dalam kehidupan komonal saat kepemimpinan Guru I Gede Regug, adalah berupa Tanah Carik Ume Diwang dauh jalan, Tanah Carik Ume Dam Anggungan, Tanah Tegalan, Tanah di Jalan Suli Denpasar, Tanah di Ubung Denpasar, pembangunan Rumah/Bale di Pekarangan, warung,  Kemudian harta ini dibagi secara proporsional berdasarkan prestasi/jasa anggota keluarga sebagai berikut : 1.Tanah tegalan yang luasnya 9.000M2 dibagi menjadi empat bagian yaitu Guru I Gede Regug, Guru Nyoman Rai Pageh, Guru I Gede Giri dan Siluh Nyoman Jati. 2. Rumah/Tanah di Ubung untuk keluarga Guru I Gede Regug seluas 350M2, 3. Warung/Tanah untuk Keluarga I Gede Nyoman Rai Pageh seluas 200M2, 4. Rumah/Tanah jalan Suli untuk keluarga Guru I Gede Giri seluas 200M2, 5. Tanah Tegalan luas 20.250 M2 untuk Siluh Nyoman Patrem, 6. Tanah Carik Ume Diwang dauh jalan untuk Siluh Nyoman Patrem seluas 2.000M2. Tanah pekarangan di Lukluk seluas 400 M2 untuk Siluh Nyoman Patrem, Untuk pembagian Rumah Tinggal dipekarangan jeroan adalah : Bale Daje dan Bale Dangin untuk keluarga Guru I Gede Regug dan Nyoman Siluh Nyoman Jati, Bale Delod untuk Keluarga Guru I Gede Nyoman Pageh, sedangkan untuk tanah pekarangan rumah belum dilakukan pembagian, saat itu disepakati boleh dibangunkan agar koordinasi dengan pemimpin keluarga, sedangkan tanah pekarangan di Tebo Kauh diperuntukan khusus untuk usaha keluarga jeroan kurubaya saja,  tidak diperbolehkan untuk pengembangan rumah tinggal keluarga.

 “ KISAH PERJALANAN KELUARGA MANDIRI JEROAN GEDE KURUBAYA “
                Perjalanan menuju keluarga mandiri mengalami beberapa phase yaitu 1. phase perjuangan, 2. Phase Transisi dan 3. Phase keluarga mandiri. Pada phase 1 yaitu phase perjuangan penuh dengan ketegangan-ketegangan kehidupan keluarga kurang kondusif, sehingga ekonomi keluarga terjadi stag. Phase 2 pada masa ini seluruh pimpinan keluarga masih mencari metode cara-cara untuk mulai hidup mandiri, rasa cemas, ketakutan, semangat bercampur menjadi satu dari perkembangan ekonomi keluarga mulai meningkat, yang paling menonjol adalah adanya rasa kebebasan dan kemerdekaan, phase keluarga mandiri pada masa ini pimpinan keluarga sudah menemukan jalannya masing-masing sesuai kemampuannya dan nasib atas keberhasilan dan keberuntungan tidak bisa di elakkan. Namun sangat dirasa kebersamaan kepedulian sesama terasa hilang dikeluarga jeroan kurubaya, tidak ada koordinasi antar keluarga jeroan, kegiatan-kegiatan upacara dan upakara berlangsung tidak terkoordinasi dengan baik sehingga timbul perbedaan perbedaan yang tajam dalam pelaksanaanya, hal ini dilihat dan dirasakan oleh seluruh keluarga jeroan. Kalau hal ini dibiarkan berlarut bisa mengancam tatanan kehidupan yang di wariskan oleh pengelingsir dan menjadi kewajiban generasi penerus keluarga jeroan untuk mempertahankan pamor yang telah ditorehkan oleh pengelingsir menjadi pudar dan bahkan hilang, pembangunan yang tidak tertata dengan baik sehingga sikut umah tua bali yang bedasarkan atas asta kosala kosali menjadi hancur, akibatnya aura pekarangan semakin sumpek menjadi kurang baik. Karena pada masa ini tidak ada orang yang mengkoordinir keluarga, sehingga seluruh keturunan keluarga jeroan merasa memiliki hak dan sering melupakan kewajibannya.
                Atas keberanian dan prakarsa I Gede Ngurah Sunatha, mengajak mengajak keluarga jeroan untuk mengadakan paruman untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban dan tanggung jawab sebagai generesi penerus keluarga jeroan, momen yang digunakan oleh I Gede Ngurah Sunatha karena bermaksud ngaturang karya ngenteg linggih di merajan, kemudian I Gede Ngurah Sunatha dalam paruman itu, mohon ijin kepada keluarga besar akan ngaturan karya  ngenteg linggih di pemerajan di tahun 2009 dan keluarga dapat menyetujui, namun stelah mendapatkan persetujuan keluarga untuk ngaturan karya I Gede Ngurah Sunatha jatuh sakit jantung koronel, dan berobat ke jakarta di Rumah Sakit Harapan Kita untuk menjalani operasi bedah jantung, sedangkan waktu pelaksanaan karya semakin dekat, maka seluruh persiapan karya dipersiapan oleh keluarga jeroan, I Gede Ngurah Sunatha kembali dan sembuh selanjutnya dapat melaksanakan karya ngenteg linggih.
 Setelah ngaturang karya inilah mulai ada petunjuk jalan untuk membentuk pengurus keluarga jeroan gede kurubaya, dengan struktur pengurus saat itu : Penasehat I Gede Rai Mandia, Ketua I Gede Ngurah Sunatha,Sekretaris I Gede Sukarma, Bendahara I Gede Putu Yasa, Pemangku I Gede Putu Wirata. Dengan telah terbentuknya pengurus keluarga jeroan secara bertahap dibuatkan beberapa pedoman dan pakem keluarga yaitu tentang pelaksanaan Dewa Yadnya, Manusia Yadnya, Pitra Yadnya dan Buta Yadnya keluarga jeroan kurubaya. Mulailah kegiatan dan tanggung jawab keluarga jeroan dapat terorganisir, tetapi masih perlu penyempurnaan-penyempurnaan terus sesuai berjalannya waktu dan jaman.


“ MASA PENATAAN ASET KELUARGA JEROAN KURUBAYA DARI TERSIRAT MENJADI TERSURAT “
Tutuntukan masa yang semakin admnistratif dan semakin modern memacu pengurus keluarga jeroan untuk menjadikan aset-aset keluarga yang dari tersirat menjadi tersurat, adapun maksudnya adalah agar tidak menimbulkan hal-hal tidak diinginkan pada masa-masa yang akan datang setelah pengelingsir jeroan tidak ada, karena tidak ada petunjuk yang jelas dipake pedoman oleh generasi penerus / parisentana keluarga jeroan tentang hak dan kewajibanya yang menjadi tanggung jawab dan yang harus mereka pikul dan lestarikan. Mulailah ditulis tentang struktur keluarga Siluh Nyoman Jati bagaimana hak dan kewajibannya karena beliau tidak memiliki keturunan, disepakati bahwa selama beliau hidup seluruh haknya diberikan untuk digunakan sedangkan kewajibannya berupa yadnya di merajan dan di pahariyangan di bebaskan, apabila suatu saat beliau meninggal seluruh sisa hak waris yang beliau terima menjadi due tengah akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu keluarga Guru I Gede Regug, keluarga I Gede Nyoman Rai Pageh dan Keluarga I Gede Giri. Setiap diadakan paruman keluarga jeroan, keputusan tentang hal-hal yang penting menyakut  hak dan kewajiban keluarga dibuatkan Notulen paruman, dimana notulen ini merupakan bisama yang harus ditaati oleh keluarga jeroan. Untuk mendapatkan rasa keadilan bersama terkait dengan penataan dan mengadministrasikan/mensertifikatan aset-aset maka disepakati, pembagian waris dan harta pengelingsir dibagi berdasarkan lokasi, artinya setiap lokasi akan dibagi berdasarkan luasnya secara merata, sebagai contoh carik dangin tegalannya yang selama ini di berikan kepada keluarga Guru Gede Regug, Ume Carik Aban di berikan kepada keluarga Guru I Gede Nyoman Pageh sedangkan Ume Diwang Dajan Setra Perang di berikan kepada keluarga Guru I Gede Giri, masing-masing lokasi tersebut akan dibagi menjadi 3 bagian atas nama keturunan Guru Gede Regug, Guru I Gede Nyoman Pageh dan Guru I Gede Giri, demikian juga halnya untuk tegalan yang luasnya 9.000M2 dan sisa bagian waris Siluh Nyoman Jati.
Kegiatan dewa yadnya di merajan dan pekarangan jeroan sudah terorganisir dengan baik dimana dilaksanakan oleh salah seorang keluarga jeroan, dimana seluruh keluarga jeroan wajib membayar punia secara proporsional. Disamping itu diharapkan keluarga yang lagi beruntung dapat menyisihkan keuntungannya untuk ngaturan punia ke merajan agar kegiatan yadnya dapat berjalan baik.
Untuk memenuhi kebutuhan biaya upakara disepakati membuat usaha keluarga, diharapkan dari hasil usaha tersebut dapat memenuhi sebagian kebutuhan upakara yadnya, dengan mengoftimalkan aset-aset yang ada, sesuai peruntukannya tanah pekarangan jeroan/Tebo kauh, dalam bentuk usaha rumah kost sederhana, penggak pedagang dan sewa parkir.
Saat ini Siluh Nyoman Jati dalam keadaan sakit maka disepakati keluarga dapat membantu dan merawatnya, seluruh biaya yang ditimbulkan akibat perawatannya  dan pembangunan usaha keluarga akan diambilkan dari hak waris yang diterimanya berupa tegalan seluas 2.250 M2 dihibah dalam bentuk saham keluarga. Demikian selanyang pandang tentang keluarga jeroan gede kurubaya

NARA SUMBER : Pengelingsir Jeroan Gede Kurubaya
Penulis                 : Ir. I Gede Ngurah Sunatha, MT
Pada                      : 12 Oktober 2016
 
 


Selesai



Komentar

Postingan populer dari blog ini