JEROAN GEDE KURUBAYA
SELAYANG PANDANG TENTANG JEROAN GEDE KURUBAYA
Prakata Penulis
Om Swastiastu,
Pada hari minggu yang cerah pukul 09.10 wita tanggal sembilan september
tahun dua ribu enam belas, penulis duduk depan komputer buka-buka internet
terbesit keinginan untuk menulis sekilas tentang keberadaan “ JEROAN GEDE
KURUBAYA”, dengan menghatur puja dan puji syukur kehadapan tuhan yang maha esa
serta para leluruh “JEROAN GEDE
KURUBAYA” semoga apa yang penulis tulis nanti diberikan tuntunan sehingga
tulisan ini bermanfaat khusus bagi parisentana “ JEROAN GEDE KURUBAYA” dan para
pembaca pada umumnya.
Penulis sangat menyadari, tidak memiliki kemampuan untuk menulis, namun
demikian keiinginan penulis untuk dapat menginformasikan tentang keberadaan
“JEROAN GEDE KURUBAYA” kepada parisentana
sangat besar, sehingga penulis mencoba
merangkai kalimat demi kelimat tentang perjalanan kehidupan keluarga,
pengelingsir dan leluhur “JEROAN GEDE KURUBAYA”
Tulisan ini penulis persembahkan khusus kepada Istri, anak,
mantu, cucu-cucu yang tercinta dan parisentana keluarga ‘JEROAN GEDE KURUBAYA”
dengan maksud agar dapat mengetahui dan memahami tentang perjalanan keluarga
besar ‘JEROAN GEDE KURUBAYA”
Penulis minta maaf yang kepada
yang pihak terkait dengan tulisan ini jika ada hal yang kurang berkenan dan
tidak sesuai dengan fakta hal ini karena
keterbatasan dari pada penulis untuk mengungkapkan fakta-fakta sejarah dari
keluarga, untuk ini penulis mohon kritik dan saran dan informasinya agar
tulisan ini dapat berguna bagi parisentana khususnya “ JEROAN GEDE KURUBAYA”
Om Santi santi
santi Om
“ KISAH PERJALANAN LELUHUR ”
Keinginan untuk mengetahui lebih
jauh tentang asal muasal dari keluarga jeroan sangat terbatas, sumber dan nara
sumbernyapun juga sangat terbatas, maka
penulis berharap suatu saat baik penulis maupun pembaca khususnya keluarga’ “JEROAN
GEDE KURUBAYA “ mendapatkan sumber maupun nara sumber yang bisa menjelaskan lebih komprehensif tentang
asal muasal serta perjalanan “LELUHUR GEDE KURUBAYA” sebelum penulis
menceritakan tentang nama-nama dan kisah perjalanan dan kehidupan leluhur penulis mohon ampun kepada leluhur semoga
penulis tidak mendapat kutukan/raja pinulah atas keberanian penulis menyebut
nama dan menceritakan kisah perjalanan dan kehidupan leluhur pada masa lampau.
Maksud dari penulis menceritakan
tentang kisah perjalanan leluhur jeroan gede kurubaya adalah agar seluruh
parisentane/ keturunan dari keluarga jeroan gede dapat mengetahui kisah
perjalanan dan kehidupan lelulur dan pengelingsir keluarga jeroan gede kurubaya,
yang mengalami lika liku perjalanan kehidupan pada masa lampau, sehingga bisa
dipakai pedoman dalam menjalani kehidupan pada masa sekarang. Kisah perjalanan
dan kehidupan leluhur dan pengelingsir pada masa lalu tentu mengalami berbagai
situasi ada masa sulit dan masa mudah.
Penglingsir “ JEROAN GEDE
KURUBAYA” Guru I Gede Regug, Guru Nyoman Rai Pageh, Guru Gede Giri dan Niluh
Nyoman Jati, pernah menceritakan kepada penulis bahwa asal muasal “ JEROAN GEDE
KURUBAYA” perjalanannya berangkat dari desa panjer denpasar, menuju kurubaya
untuk membuka lahan pertanian dan pemukiman, setelah memiliki cukup lahan dan
pemukiman, karena pada masa itu kurubaya adalah masih berupa hutan belantara
dengan pohon-pohon besar, selanjutnya leluhur mengembara untuk mencari
pekerjaan di desa sandakan petang badung, beberapa waktu menetap di desa
sandakan di rumah keluarga I Wayan Sukaning dan lahir disana I GEDE SANDAKAN, sepeninggal
leluhur / orang tua I Gede Sandakan, kemudian
I Gede Sandakan kembali pulangkekurubaya
sampai sekarang, pekerjaan penglingsir sebagai petani/perkebunan dan tukang
bangunan. I Gede Sandakan menikah dengan pengelingsir dari jeroan mangku dalem
tegal, dari pernikahannya lahirlah Niluh Tampe, I Gede Panjer dan Niluh
Landung, Niluh Tanpe menikah dengan pengelingsir Jeroan Tengah Kurubaya dan
Niluh Landung menikah ke Perang Alas karena suaminya meninggal kembali pulang
ke rumah Jeroan Kurubaya. Adapun sebagai warisan yang ditinggalkan oleh leluhur
I Gede Sandakan adalah Tanah Pekarangan Jeroan Kurubaya, Tanah Carik Aban,
Tanah Carik Dangin Tegalan, Tanah cari Dajan dan dangin setra desa Adat Perang
“ KISAH KEHIDUPAN KELUARGA GEDE
KURUBAYA PADA JAMAN BELANDA TAHUN 1980 “
Penulis mendapatkan nama dan silsilah keluarga, baru dari pengelisir “I
GEDE SANDAKAN “ dalam kisah ini penulis hanya menceritakan kisah perjalanan
kehidupan pengelingsir dari “ I GEDE PANJER “. Dapat penulis ceritakan
selanjutnya kisah perjuangan dan perjalanan kehidupanan beliau : Pengelingsir I Gede Panjer menikah dengan Niluh Nelo
berasal dari banjar kurubaya juga yaitu pengelingsir dari rumah I Ketut Sukra,
dari pernikahannya lahir enam orang anak yaitu : anak pertama I Gede Regug anak
kedua Niluh Made Rajeg anak ketiga I Gede Nyoman Rai Pageh anak keempat Niluh
Ketut Jata anak ke lima I Gede Giri dan anak ke enam Niluh Nyoman Jati.
I Gede Panjer dan Niluh Nelo
adalah pasangan keluarga yang sehat harmonis dan berbahagia karena I Gede
Panjer sangat menyayangi dan mencintai Niluh Nelo demikian juga halnya dengan
Niluh Nelo sangat menghormati dan mencintai I Gede Panjer. Mereka hidup penuh
kerukunan, kedamaian dan kebahagiaan kerena mereka saling menghormati dan
menghargai satu sama lainnya, demikian juga dengan ke enam anak-anaknya yang
sangat patuh kepada oarang tuanya dan sangat rukun dengan saudara-saudaranya,
anak yang lebih tua selalu menjaga dan melindungi adik-adiknya, tidak ada hari dan waktu tanpa canda ria dan
ketawa terdengar di tengah-tengah keluarga ini. Sekali-kali terdengar juga
tangisan dari anak-anak mereka karena ada yang nakal menggoda saudaranya, dan
juga karena tidak tersedianya makanan di rumah karena ditinggal bekerja diluar
rumah oleh kedua orang tuanya untuk mendapatkan sekilo beras dan umbi-umbian
untuk dimasak.
Dengan bermodalkan kesehatan, kerukunan dan keharmonisan rumah tangga
dan keluarga mereka bekerja penuh semangat dan keuletan. I Gede Panjer bekerja
sebagai petani dan tukang bangunan sedangkan Niluh Nelo adalah pekerja keras
dan sangat ulet sebagai pedagang kaki lima, dagangan yang mereka jual adalah
pagi berjualan Nasi bubuh dan siang hari berjualan rujak tibah.
Kisah tentang Niluh Nelo yang sering dipanggil Nini/Uwe Cuk, Pada sore hari Nini Cuk habis menjajagan
dagangan berupa Rujak Tibah/mengkudu di sawah-sawah ditempat orang mengetam
padi, langsung mencari bahan dagangan untuk Nasi bubuh seperti sayur, daun dan
bumbu-bumbuan dan bahan Rujak Tibah seperti tibah, lunak/celagi demikianlah
kegiatan Nini cuk setiap harinya, sedangkan I Gede Panjer bekerja kesawah
sebagai petani yang ulet, dari hasil panen sebagai petani mereka membesarkan
dan mendidik anak2 mereka ber enam
dengan dasar saling menghormati menghargai dan patuh pada orang tua, sedangkan
saudara yang lebih tua melindungi adiknya penuh dengan tanggung jawab demikian
juga dengan adik-adiknya sangat hormat dan pada kakaknya.
Uwe Cuk menjajagkan dagangannya rujak tibah keliling sawah dimana ada
orang memanen /mengetam padi, panen jagung, panen ketela, kacang, dan yang
lainnya, hasil berjualanannya tidak langsung mendapatkan uang tetapi mendapatkan
hasil panen disawah/dikebun berupa pada , ketela, jagung dan lainnya, karena
saat itu susah mendapatkan uang, disini jual beli dengan menggunakan sistem
barter. Karena hasil dagangannya tidak bisa diangkut sendiri kerumah, maka Uwe
Cuk di jemput kesawah oleh suaminya, mereka pulang bersama berjalan disepanjang
pematang sawah sambil memikul barang-barang hasil berjualan/hasil barternya,
dengan penuh kebahagian, rasa lelah tidak pernah terasa karena mereka sambil
melantunkan tembang-tembang sinom disepanjang perjalanannya, sampai dirumah
merekan disambut oleh anak-anaknya penuh kebahagian. Kegiatan ini mereka jalan
hari demi hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti
tahun tidak terasa, anak-anaknya tumbuh semakin dewasa semua dan mulai bisa
membantu kegiatan orang tuanya. Dengan semakin dewasanya anak-anak mereka,
anak-anak juga sudah mulai bisa bekerja membantu orang tuanya secara
bersama-sama, dengan demikian mereka sudah bisa mulai menyisihkan hasil
dagangannya sisa untuk di konsumsi, untuk dijual,uang-uang hasil penjualannya
mereka untuk disimpan.
Setelah mereka memiliki cukup uang mulailah mereka untuk menggadai
sawah orang dan untuk digarap bersama anak-anaknya, ekonomi keluarga semakin
membaik, waktu terus berjalan akhirnya mereka bisa mulai membeli
tanah carik Ume Bantas yang kita warisi sampai sekarang.
Kalau
kita lihat perjalanan dan kisah kehidupan keluarga I Gede Panjer dan Niluh Nelo
penuh dengan perjuangan yang didasarkan atas cinta kasih, saling menghormati dan menghargai,
patuh, taat dan kedamaian, maka penulis
dapat katakan warisan yang kita terima sekarang warisan yang didapat dari jerih
payah penuh perjuangan dengan cinta kasih, dan dipake membesarkan anak-anaknya,
sehingga menjadi anak yang suputra berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa
dan negara.
Adapun
warisan yang ditinggalkan oleh keluarga
I Gede Panjer dengan Niluh Nelo berupa tanah Karang sekarang sebagai
Areal “JEROAN GEDE KURUBAYA”, Tanah Carik di subak Aban, Tanah Carik diutara
setra Adat Perang, Tanah carik Labak, Tanah Carik dangin tegalan, tanah carik
bantas,yang luasnya seluruhnya kurang lebih dua hektar. Pengelingsir Guru Gede Panjer dengan tegas
memberikan tanggung jawab masing-masing kepada anaknya tentunya dengan landasan
bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Walaupun anak-anaknya sudah menikah
kehidupan keluarga masih menggunakan manajemen komonal yaitu bekerja bersama
hasilnya dijadikan satu untuk dinikmati bersama menjadi milik bersama pula.
Demikianlah kisah perjanan kehidupan “ I GEDE PANJER dengan NILUH NELO “, yang
dapat kita jadikan dasar panutan dalam menjalani kehidupan kita sesuai
perkembangan jaman yang akan selalu berubah.
“ KISAH PERJALANAN KEHIDUPAN GENERASI
KETIGA KELUARGA JEROAN GEDE KURUBAYA “
I Gede Panjer dan Niluh Nelo berputrakan enam orang, seperti penulis
telah ceritakan nama-namanya sebelumnya, Pendidikan dan pakem-pakem keluarga
yang diberikan oleh I Gede Panjer kepada anak-anaknya sangat dipatuhi oleh
anak-anaknya, yaitu anak-anak harus patuh pada orang tua dan adik-adiknya harus
patuh dan menghormati kakaknya demikian juga sebaliknya sebagai kakak selalu
melindungi dan menyayangi adik-adiknya.
Guru Gede Regug sebagai anak tertua diberikan
mandat oleh Pengelingsir untuk memimpin adik-adiknya dan memikul beban dan
tanggung jawab keluarga besar “JEROAN GEDE KURUBAYA” setelah I Gede Panjer dan
Niluh Nelo sudah tua dan tidak mampu masih memikul tanggung jawab dan beban
keluarga. Anak-anak mereka sudah menjadi anak dewasa dan mulai menikah, jumlah
anggota keluarga Jeroan Gede Kurubayapun semakin banyak dengan karakter
keluarga makin beragam, membutuhkan manajemen dan pemimpin keluarga yang lebih
bijak. Setelah cukup umur maka I Gede Regug Menikah dengan pengelingsir dari
perang alas dirumah pan kembur yang bernama Ni Wayan Margi yang diberi
pungkusan/dipanggil Luh Tanjung sebagai
istri pertama melahirkan Niluh Badri, I
Gede Badra dan Niluh Nyoman Patrem,
Niluh Nyoman Menyol sebagai istri kedua yang berasal dari Jeroan
Kanginan Kurubaya melahirkan I Gede Putu Wirata, I Gede Nyoman Rai Pageh
menikah dengan Niluh Kompiang berasal dari Jeroan Gede Ngurah Kurubaya
melahirkan Niluh Made Kari, Niluh Putu Nadi Asih, Niluh Nyoman Asih, I Gede
Giri menikah dengan Siluh Rida beasal dari Jeroan Gede Anggungan melahirkan I
Gede Putu Sumendra, I Gede Rai Mandia, Niluh Nyoman Yuniasih dan I Gede Ngurah
Sunatha, sedangkan saudara perempuan Niluh Made Rajeg menikah dengan I Gede
Gongsor Jeroan Kanginan Kurubya, Niluh Ketut Jati menikah dengan Si Gede Jantri
Jeroan Tengah Tegal, Siluh Nyoman Jati tidak menikah, untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada silsilah jeroan gede kurubaya. Karena di Jeroan Tengah tidak
ada lahir anak laki-laki maka atas permintaan pengelingsir jeroan tengah I Gede
Sumendra dinikahkan dengan Niluh Gede dan Nyentana di Jeroan Tengah Kurubaya
“ KISAH PERJALANAN I GEDE REGUG
SEBAGAI TOKOH YANG DI SEGANI “
Sebagai kakak tertua Guru Gede Regug sangat di segani oleh adik-adiknya
dan juga menjadi tokoh masyarakat banjar adat kurubaya yang sangat disegani.
Ketokohan dan kemampuan beliau sangat mumpuni sebagai tokoh masyarakat, tokoh
adat, tokoh agama, tokoh sepiritual dan banyak punya pengikut/murid dan
berobat.
Guru I Gede Regug sebagai
pemimpin keluarga menerapkan manejemen keluarga yang berlandaskan bersatu kita
teguh bercerai kita runtuh yang diwariskan oleh orang tuanya, walau
adik-adiknya sudah menikah mereka tetap bersatu, tidak membangun keluarga
mandiri masing-masing, dengan menajemen dan pembagian tugas yang jelas, semua bekerja
bersama-sama sesuai tugasnya seperti adik2nya, ipar2nya, anak2nya, mantunya ada
berkerja sebagai petani dan peternak, berdagang semua hasil dari pekerjaan tersebut dijadikan
satu, menjadi milik bersama yang digunakan untuk memenuhan keluarga besara
seperti biaya konsumsi, meyadnya, membangun dan berinvestasi.
Guru I Gede Regug sebagai kakak tertua dan sebagai pemimpin keluarga
sangat bijak didalam memimpin dan
mengayomi seluruh anggota keluarga, beliau tidak membedakan-bedakan mana
anak kandungnya mana keponakannya diberikan perhatian dan pendidikan yang sama
sesuai kemampuan kemauan dan bakatnya masing-msing. Dalam perjalanan
kepemimpinan beliau manajemen keluarga berjalan baik, sampai akhir ada gangguan
ilmu leak, yang mengusik kedamaian
keluarga berupa, sehingga keluarga sangat terganggu, diyakini saat itu ada seseorang
menggunakan ilmu leak bali untuk mengganggu anak-anak, sampai banyak yang sakit
dan bahkan meninggal. Disini Guru Gede Regug merasa jengah tidak bisa
melindungi keluarga, kemudian beliau memanggil saudara-saudaranya diajak
berembuk mencari jalan keluar terhadap permasalahan ini, kemudian dari hasil
rembuk beliau dengan saudaranya, didapat
kesimpulan bahwa beliau mencari guru untuk belajar sepiritual dan kebatinan
agar dapat melindungi keluarga jeroan kurubaya dari gangguan-gangguan ilmu
hitam leak, beliau belajar terus mengisi diri dari guru yang satu ke guru yang
lainnya dengan waktu bertahun-tahun meninggalkan kegiatan rumah, tidak bekerja
lagi sebagai petani maupun undagi/tukang bangunan, untuk memenuhi kebutuhan
akan sandang dan pangan keluarga besar pada saat itu saudara-saudaranyalah yang ditugaskan yaitu
dengan mengolah tanah sawah yang telah di wariskan oleh orang mereka.
Sebagai pimpinan keluarga jeroan kurubaya sepeninggal Guru I Gede Regug
belajar/berguru ditugaskan Guru Nyoman Rai Pageh untuk memimpin keluarga
bekerja mengolah sawah-sawah, karena Guru Nyoman Rai Pageh memahami tentang
ilmu teknologi pertanian dan perkebunan/palawija, keluarga patuh atas
kepimpinan Guru I Gede Nyoman Rai Pageh dan kebutuhan keluarga akan sandang dan
pangan tercukupi.
Setelah Guru I Gede Regug merasakan sudah cukup ilmunya untuk
melindungi keluarga besar jeroan kurubaya, maka beliau kembali ke tengah-tengah
keluarga untuk memimpin kembali keluarga besar jeroan kurubaya. Diyakini saat
itu ada salah seorang pengelingsir perempuan keluarga jeroan yang memiliki ilmu
leak, dimana pegelingsir ini sudah menikah keluar kemudian cerai kembali pulang
kerumah sebagai janda tua yang tinggal di rumah yang bernama Niluh Landuh,
Niluh Landuh merupakan saudara/adik
kandung dari pengelingsir I Gede Panjer, sengaja atau tidak ilmu leak yang
mereka miliki beliau telah mengganggu keluarga, diyakani setiap lahir anak
laki-laki dari Keluarga Guru Nyoman Rai Pageh sakit dan meninggal, ilmu leak
itulah penyebabnya. Kemudian lahir anak pertama laki-laki dari Guru I Gede Giri
juga sakit, akhirnya anak laki-laki ini diangkat/diidih oleh Guru I Gede Regug sebagai
anaknya agar beliau dapat melindungi jiwa anak ini, anak yang dimaksud adalah
Guru Mangku I Gede Putu Sumendra. Karena I Gede Putu Sumendra ini ada sekarang dalam lindungan Guru I Gede
Regug masih dicoba diganggu oleh ilmu leak ini, maka Meluh Landuh di usir dari
pekerangan jeroan gede kurubaya dan kemudian membuat kubu/rumah di tebe kangin
tanah milik keluarga Pak Jigeh/Pak Sugi.
Disini diceritakan terjadi tantangan dari Guru I Gede Regug kepada
Meluh Landuh untuk adu Ilmu agar tidak terus mengganggu keluarga jeroan
kurubaya, Meluh Landuh kalah dalam adu ilmu dan akhirnya meninggal. Sepeninggal
Meluh Landuh keluarga jeroan kembali damai, sedangkan Guru I Gede Regug terus
mengisi diri dan memantapkan ilmu-ilmu yang telah didapat dari para
guru-gurunya. Beliau disamping belajar
ilmu kebatinan juga mempejari ilmu pengobatan, mulailah beliau memberikan
pertolongan pengobatan kepada keluarga jeroan, masyarakat kurubaya kemudian
terus masyarakat disekitar banjar mulai banyak yang minta perolongan kepada
beliau dan akhir terdengar luas tentang keberhasilan beliau dalam pengobatan
dan ilmu kebatinan.
Disamping karena kemampuan beliau Guru Gede Regug juga orang yang
sangat dermawan dan bijaksana sehingga beliau sangat di segani oleh para
tokoh-tokoh masyarakat, beliau juga menjalin hubungan dengan para tokoh-tokoh
masyarakat, tokoh-tokoh jeroan-jeroan, tokoh puri mengwi sehingga beliau bisa
mengangkat dan mensejajarkan keberadaan Jeroan Gede Kurubaya dengan
Jeroan-Jeroan yang ada di desa sekitarnya.
Kemampuan Ilmu kebatinan beliau terdengar luas, seijin dan restu
guru-guru beliau, Guru I Gede Regug karena desakan masyarakat yang ingin
belajar pada beliau maka beliau mengajarkan ilmu yang beliau dapatkan dari
guru-guru beliau kepada masyarakat yang membutuhkan. Beliau memiliki Puluhan
ribu murid dari berbagai kalangan. Pada setiap hari purnama kedasa para
muridnya berkumpul untuk memantapkan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan dengan
istilah “ NYEPUH “ atau mengasah ilmu.
Beliau sangat memperhatikan pendidikan baik pendidikan formal berupa
sekolah maupun yang tidak formal anak-anak dan selalu memperhatikan dan dapat
melihat bakat, kemampuan dan pontensi, sehingga beliau memberikan dan mengirim
anak-anak ketempat pendidikan, misalkan I Gede Badra di didik di Puri Mengwi,I
Gede Putu Sumendra belajar Pertukangan di pekak Suwitra perang lukluk, I Gede Rai Mandia ke Puri Mecutan. I Gede Rai
Mandia disamping bekerja di Puri juga menekuni pendidikan Pormal bersekolah, I
Gede Putu Wirata pendidikan Modes/Penjahit, Niluh Nyoman Patrem belajar
berdagang, Niluh Putu Nadiasih belajar berdagang, Nyoman Yuniasih dan Niluh Nyoman
Asih belajar berdagang, semua anak-anak dengan penuh ketekunan belajar mengisi
diri sesuai dengan bidang dan bakatnya masing-masing, selanjutnya anak-anak
bekerja sesuai profesinya masing-masing dalam manajemen keluarga yang masih
“KOMONAL”
“ KISAH MASA PERALIHAN KEHIDUPAN
KELUARGA JEROAN YANG KOMOMAL MENUJU MANDIRI DI TAHUN 1990 “
Seiring perjalanan waktu dan terus bertambahnya jumlah anggota keluarga
jeroan, Guru I Gede Regug yang sudah semakin tua sedangkan tanggung jawab dan
permasalahan yang semakin komplek karena perkembangan jaman, sedangkan manajemen
yang digunakan untuk mempersatukan keluarga jeroan gede kurubaya masih
manajemen di wariskan oleh orang tua
beliau, sehingga sering terjadi friksi-friksi internal karena merasa tidak
adil, merasa paling tuyuh/capek, merasa tidak puas akan cara-cara kehidupan
seperti ini, tapi karena kepatuhan seluruh anggota keluarga kepada pemimpin
maka kehidupan keluarga yang bersatu tetap berjalan.
Diceritakan disini juga salah satu anggota keluarga yang paling berjasa
meningkatkan ekonomi keluarga adalah
Siluh Nyoman Patrem, karena beliau adalah pedagang yang sangat ulet dan sangat
sukses. Beliau disamping sebagai pedagang juga bekerja kesawah kekebun tanpa
mengenal lelah, dengan keberadaan dan kemampuannya, beliau sangat disegani oleh
seluruh anggota keluarga termasuk pemimpin keluarga Guru I Gede Regug, keuletan beliau dalam bekerja
patut kita jadi panutan dan tiru dalam menjalani kehidupan kita, pada masa
sekarang.
Pada masa itu dibawah kepemimpinan dan ke tokohan I Gede Regug keluarga
jeroan kurubaya berhasil meningkatkan ekonomi keluarga jeroan kurubaya dan
dapat berinvestasi berupa pembelian tanah tegalan seluas kurang lebih tiga
hektar dan tanah carik kurang lebih dua puluh are di ume diwang dauh jalan, membeli
tanah di jalan suli denpasar seluas dua are, membeli tanah di ubung seluas
kurang lebih 3,5 are, pembelian tanah dilukluk seluas 4 are dan tanah carik 6
are di dam anggungan khusus untuk tanah di dam anggungan ini didapat dengan
cara membayar gegadean carik jeroan gede
anggungan pada pihak ketiga, pada saat itu oleh pengelingsir jeroan gede
anggungan memerintahkanlah Siluh Rida untuk menebus gegadean tanah tersebut,agar
bisa membesarkan anak-anaknya, hal ini disampaikan oleh Siluh Rida kepada pemimpin
keluarga, tanah gegadean tersebut akhirnya ditebus.
Kisah perjalanan waktu selanjutnya
adalah menunjukan dengan semakin banyaknya anggota keluarga jeroan
kurubaya, perkembangan jaman dan Guru I
Gede Regug usia semakin bertambah, seiring semakain bertamabahnya umur tentunya
kemampuan sesorang baik phisik maupun mental akan semakin menurun, demikian
juga dengan halnya kemampuan untuk memimpin keluarga, friksi-friksi akibat merasa tidak mendapat apresiasi, merasa dipersamakan dengan anggota yang tidak
memiliki kempuan, semakin menjadi-jadi
yang berakibat atmosfier keluarga terasa meningkat, setiap anggota merasakan
kedamaian semakin jauh, hal ini kurang dapat rasakan oleh pemimpin. Momentum
ini dimanfaatkan beberapa keluarga
mencoba untuk mengusulkan bisa hidup mandiri namun hal ini tidak mendapat restu
dari pemimpin dan ditentang oleh keluarga yang lain, sampai sempat keluarga I
Gede Putu Wirata, meninggalkan rumah
untuk mencoba hidup mandiri beberapa waktu. I Gede Putu Wirata meninggalkan jeroan
dan tinggal berpindah-pindah, cukup lama
dapat tinggal di jeroan kanginan kurubaya bahkan sampai mau di idih/diminta
oleh pamannya I Gede Kania kakak dari ibunya/Siluh Nyoman Menyol namun tidak
mendapat ijin dari orang tuanya yaitu I Gede Regug, dan akhirnya kembali
kerumah karena pemimpin meminta keluarga I Gede Putu Wirata kembali pulang, hal
ini terjadi berulang-ulang pulang pergi karena setiap sampai kembali di rumah
tidak adanya perubahan suasana kedamain yang dirasakan. Situasinya ini
berlangsung bertahun-tahun rasa kedamaian dan keadilan dirasa semakin jauh
dirasakan oleh beberapa keluarga, sampai ada yang menangis setiap malam
mendengar kata-kata yang kurang pantas dan menyakitkan perasaannya sesonggan
bali/pantun bali “ sewai megaleng yeh mate “ artinya setiap hari tidur
berbantalkan air mata, namun mereka tidak berdaya untuk bangkit/lepas dari
situasi ini, karena mereka tidak punya kemampuan dan keberanian.
“ KISAH MASA PERJUANGAN MENUJU KEHIDUPAN KELUARGA JEROAN YANG MANDIRI “
Cita-cita
untuk bisa kehidupan yang mandiri melalui perjuangan yang panjang panjang,
dengan mengadakan pembaharuan/reformasi ditahun 1979
Kehidupan keluarga dengan manajemen Komonal dirasa sudah tidak sesuai
di terapkan lagi di keluraga jeroan kurubaya pada saat itu karena dengan jumlah
anggota keluarga yang sudah banyak dengan beraneka ragam asal keluarga bergabung menjadi satu dengan karakter yang
berbeda tentu akan menimbulkan perbedaan pandangan, gaya dan cara yang berbeda
pula,artinya anggota keluarga jeroan kurubaya sudah sangat hetorogen, hal ini sangat sulit untuk tetap bisa
menerapkan manajemen komonal yang diwariskan oleh pengelingsir, sangat berbeda
halnya dengan masa saat anggota keluarga yang masih homogen.
Dengan situasi yang semakin kurang nyaman dirasakan oleh keluarga I
Gede Putu Wirata, maka I Gede Putu Wirata dengan dukungan I Gede Rai Mandia
memberanikan diri memohon kepada Guru I Gede Regug selaku pemimpin keluarga
untuk bisa hidup mandiri di tengah-tengah keluarga jeroan gede kurubaya secara berdampingan.
Kehidupan keluarga mandiri yang dibangun oleh I Gede Putu Wirata saat itu
beranggotakan saat itu : Niluh Nyoman
Menyol Ibu dari I Gede Putu Wirata,
Siluh Putu Nama Istrinya dan anak-anaknya, tetap mendapat tantangan dan cemohan,
tetapi mereka dengan penuh kesabaran menerima cemohan terutama Niluh Nyoman
Menyol demi tetap utuhnya keluarga mandiri yang dibangun oleh I Gede Putu
Wirata.
Situasi di tengah-tengah keluarga besar juga belum dirasakan nyaman
oleh keluarga I Gede Giri, karena I Gede Giri mulai sering sakit-sakitan,
sakitnya I Gede Giri demam, gangguan lambung, rasa cemas, ketakutan,
kesiab-kesiab, sehingga beliau berhari-hari dan bahkan bisa sampai bulanan di
kamar saja, sehingga Siluh Rida sebagai istrinya selalu menerima cemohan karena
suami tidak bisa bekerja hanya bisa makan saja sedangkan memiliki anak2nya
banyak sehingga keluarga yang lainnya merasa terbebani, cemohan-cemohan dan penderitaan demi
penderitaan yang di rasakan terus berlangsung, namun Siluh Rida menjalani
kehidupan yang penuh tekanan dengan sabar demi untuk keutuhan keluarga dan
keberhasilan anak-anaknya.
Situasi masih terus sampai akhirnya I Gede Rai Mandia sebagai
satu-satunya keluarga saat itu yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi
saat itu dan sudah bekerja dipemerintahan, tentu memiliki pengalaman dan
wawasan kedepan yang lebih banyak dan lebih luas yang komprenhensif. Beliaulah
pertama kali memohon kepada pemimpin keluarga saat itu yaitu Guru Gede Regug
agar manajemen keluarga dapat dirubah dari kehidupan yang “ KELUARGA KOMONAL “
menuju “ KEHIDUPAN KELUARGA MANDIRI “ sesuai tuntutan perkembangan jaman dan
situasi keluarga yang kurang kondusif, kelihatan utuh dari luar tetapi didalam
banyak friksi-friksi merasa ketidak adilan, ketidak puasan diantara anggota
yang suatu saat kalau tetap seperti saat itu bisa menjadi bencana keluarga.
Karena tidak setiap anggota keluarga merasa merdeka tetapi beberapa ada yang merasa
merdeka dengan kata lain ada yang merasa dijajah tetapi tidak ada yang merasa
menjajah.
Permohonan I Gede Rai Mandia saat itu ditolak tegas bahkan sempat
mendapat makian karena emosi sesaat yang tidak terkendali dari pemimpin
keluarga dengan mengatakan apakah itu pelajaran yang didapat dari bersekolah
tinggi-tinggi, guru merasa rugi
mensekolahkan Rai dan keluarga lainnya juga ikut mencemoh I Gede Rai Mandia
atas permohonannya itu, I Gede Rai Mandia tidak patah arang saat permohonannya
di tolak. Permohonan I Gede Rai Mandia saat itu adalah agar masing-masing
pengelingsir bisa membangun keluarga mandiri dan diberikan hak dan kewajibannya
masing-masing yaitu Keluarga Guru I Gede Regug, keluarga I Gede Ngoman Rai
Pageh, keluarga I Gede Giri dan Niluh Nyoman Jati karena saudara perempuan bisa
memilih/mengikuti salah satu saudara laki-lakinya. Penolakan yang dilakukan
pemimpin keluarga dikira permohonan ada maksud terselubung I Gede Rai Mandia untuk
menuntut hak waris. Atas makian dan penolakan itu I Gede Rai Mandia berucap
tidak menuntut haknya hanya memberikan usulan saja agar kehidupan keluarga bisa
lebih mandiri tidak ketergantungan atau menggantungkan dirinya kepada keluarga
yang lain, Rai berucap dan memohon kalau begitu halnya saya mohon doa restu saja
akan bekerja kalau saya berhasil saya akan pulang membangun keluarga kembali.
Kemudian setelah I Gede Rai Mandia berhasil menyisihkan penghasilannya
sisa untuk kebutuhan pokok keluargany, Rai kembali datang memohon kepada
pemimpin keluarga agar permohonannya dulu dikabulkan, karena pemimpin keluarga
melihat apa yang diucapkan Rai sudah di wujudkan yaitu membangun angkul-angkul
tembok penyengker dan yang lainnya tanpa meminta biaya dari keluarga, semua itu
dibiaya sendiri akhirnya pemimpin keluarga dapat mengabulkan permintaannya.
Saat itu terbentuklah keluarga mandiri yang memberikan harapan adanya
kebebasan, rasa kemerdekaan, berkerja
sesuai profesinya, dan keluarga yang damai rukun bahagia tanpa ada yang merasa
tertekan saat itu yaitu : 1. Keluarga Guru
I Gede Regug dengan anggota saat itu : I Gede Badra, Niluh Nyoman
Regig I Gede Putu Yasa, I Gede Sukarma,
Niluh Nyoman Mariati, Siluh Nyoman Patrem, Siluh Nyoman Jati, 2. Keluarga Guru
I Gede Nyoman Rai Pageh dengan anggota saat itu : I Gede Nyoman Rai Pageh,
Siluh Putu Nadi Asih dan Siluh Nyoman Asih, 3. Keluarga Guru I Gede Giri dengan
anggota saat itu : Guru I Gede Giri, I Gede Rai Mandia, I Nyoman Yuniasih, I
Gede Ngurah Sunatha, Siluh Rida,
Keluarga I Gede Putu Wirata dengan anggota saat itu : I Gede Putu Wirata
Niluh Nyoman Menyol, Siluh Putu Nama, Siluh Putu Wahyuni.
“ KISAH MASA PERALIHAN KELUARGA
KOMONAL MENUJU KELUARGA MANDIRI “
Dengan dapat dikabulkan permohonan dari I Gede Rai Mandia oleh Pemimpin
keluarga Guru I Gede Regug, sebagai dasar untuk bisa hidup mandiri maka
dibagikan hak dan kewajiban kepada masing-masing pemimpin keluarga mandiri oleh
Guru I Gede Regug. Dari cerita sebelum Guru I Gede Regug adalah orang yang
sangat bijaksana, saudara-saudaranya sangat patuh kepadanya, apa yang dibagikan
oleh I Guru Gede Regug dapat diterima
dengan rasa syukur, walaupun rasa adil belum dirasakan karena ada keluarga yang
melihat saat kita masih bersatu seluruh kekayaan baik yang berasal dari warisan
Pengelingsir I Gede Panjer dan Niluh Nelo dan hasil berupa harta kekayaan yang diperoleh pada saat masih
bersatu dibagi sama, ada yang menginginkan hasil harta kekayaan yang diperoleh saat adalah berkat
jasanya maka mestinya mereka yang mendapat lebih banyak, hal ini menimbul
silang pendapat yang cukup ruwet untuk diselesaikan.
Atas kebijakan Guru I Gede Regug maka harta yang didapat dari
Pengelingsir I Gede Panjer dan Nilluh Nelo dibagi secara merata kepada
saudara-saudaranya, sedangkan harta yang diperoleh pada saat kepemimpinannya
dibagi secara proporsional berdasarkan prestasi/jasa anggota keluarga pada saat
itu, sikap dan kebijaksanaan ini dirasa
memihak kepada salah seorang anggota keluarga saja oleh saudaranya maka akhirnya setelah
diberikan pengertian oleh Guru I Gede Regug dapat dimengerti dan di terima,
karena hanya tuhan yang tau yang mana
keadilan sesungguhnya, harta hanya titipan dan sementara karena kalau
beliau menghendaki itu akan diambil kembali olehNya, itulah kata binjak yang di
sampaikan oleh Guru I Gede Regug sebagai orang bijak dan pemimpin keluarga.
“ CATATAN PEMBAGIAN WARIS PENGELINGSIR/LELUHUR “
Waris dimaksudkan disini berpengertian Hak dan Tanggung Jawab, yang
berupa hak adalah pembagian harta yang
merupakan waris dari Pengelingsir I Gede Panjer dan Niluh Nelo saat itu dilakukan hanya secara tersirat saja
belum tersurat/tertulis, disebutkan saat itu
“ pada ngingetan “ tidak untuk dimiliki secara mutlak. Guru I Gede Regug
Ngingetan Ume Carik Dangin Tegalan dengan luas 5.150M2, Guru I Gede Nyoman
Pageh Ume Carik Aban seluas 4.500 M2, Guru I Gede Giri Ume Carik Dajan Setra
Perang seluas 3.500M2, sedang Niluh Nyoman Jati di Carik Ume Labak seluas
1.900M2 ditambah Carik Ume diwang Dangin setra Perang 900M2 dan di carik dam
anggungan seluas 600m2, sedangkan Carik Ume bantas seluas 4.500 M2 dipakai
sebagai palak merajan
Sedang waris berupa kewajiban adalah tanggung jawab yang harus dipikul
secara melekat oleh seluruh keluarga keturunan dan parisentane jeroan gede
kurubaya secara proporsional berdasarkan hak yang didapatkan, kewajiban dan
tanggung jawab tersebut adalah Upacara dan upakara secara agama hindu yang
merupakan sungsungan pengelingsir/leluhur berupa pura/parihyangan dan
melestarikan keberadaan jeroan gede kurubaya baik secara moril maupun materiil,
secara moril menjunjung dan manjaga martabat keluarga jeroan, secara materiil
menjaga mengembangkan melestarikan
bangunan-bangunan baik parihyangan maupun perumahan dan pekarangannya.
“ CATATAN PEMBAGIAN HARTA YANG
DIPEROLEH PADA MASA KOMONAL “
Pembagian harta yang di peroleh pada masa masih bersatu dalam kehidupan
komonal saat kepemimpinan Guru I Gede Regug, adalah berupa Tanah Carik Ume
Diwang dauh jalan, Tanah Carik Ume Dam Anggungan, Tanah Tegalan, Tanah di Jalan
Suli Denpasar, Tanah di Ubung Denpasar, pembangunan Rumah/Bale di Pekarangan,
warung, Kemudian harta ini dibagi secara
proporsional berdasarkan prestasi/jasa anggota keluarga sebagai berikut :
1.Tanah tegalan yang luasnya 9.000M2 dibagi menjadi empat bagian yaitu Guru I
Gede Regug, Guru Nyoman Rai Pageh, Guru I Gede Giri dan Siluh Nyoman Jati. 2.
Rumah/Tanah di Ubung untuk keluarga Guru I Gede Regug seluas 350M2, 3.
Warung/Tanah untuk Keluarga I Gede Nyoman Rai Pageh seluas 200M2, 4.
Rumah/Tanah jalan Suli untuk keluarga Guru I Gede Giri seluas 200M2, 5. Tanah
Tegalan luas 20.250 M2 untuk Siluh Nyoman Patrem, 6. Tanah Carik Ume Diwang dauh
jalan untuk Siluh Nyoman Patrem seluas 2.000M2. Tanah pekarangan di Lukluk
seluas 400 M2 untuk Siluh Nyoman Patrem, Untuk pembagian Rumah Tinggal
dipekarangan jeroan adalah : Bale Daje dan Bale Dangin untuk keluarga Guru I
Gede Regug dan Nyoman Siluh Nyoman Jati, Bale Delod untuk Keluarga Guru I Gede
Nyoman Pageh, sedangkan untuk tanah pekarangan rumah belum dilakukan pembagian,
saat itu disepakati boleh dibangunkan agar koordinasi dengan pemimpin keluarga,
sedangkan tanah pekarangan di Tebo Kauh diperuntukan khusus untuk usaha keluarga
jeroan kurubaya saja, tidak
diperbolehkan untuk pengembangan rumah tinggal keluarga.
“ KISAH PERJALANAN KELUARGA MANDIRI JEROAN
GEDE KURUBAYA “
Perjalanan menuju keluarga
mandiri mengalami beberapa phase yaitu 1. phase perjuangan, 2. Phase Transisi
dan 3. Phase keluarga mandiri. Pada phase 1 yaitu phase perjuangan penuh dengan
ketegangan-ketegangan kehidupan keluarga kurang kondusif, sehingga ekonomi
keluarga terjadi stag. Phase 2 pada masa ini seluruh pimpinan keluarga masih
mencari metode cara-cara untuk mulai hidup mandiri, rasa cemas, ketakutan,
semangat bercampur menjadi satu dari perkembangan ekonomi keluarga mulai
meningkat, yang paling menonjol adalah adanya rasa kebebasan dan kemerdekaan,
phase keluarga mandiri pada masa ini pimpinan keluarga sudah menemukan jalannya
masing-masing sesuai kemampuannya dan nasib atas keberhasilan dan keberuntungan
tidak bisa di elakkan. Namun sangat dirasa kebersamaan kepedulian sesama terasa
hilang dikeluarga jeroan kurubaya, tidak ada koordinasi antar keluarga jeroan,
kegiatan-kegiatan upacara dan upakara berlangsung tidak terkoordinasi dengan baik
sehingga timbul perbedaan perbedaan yang tajam dalam pelaksanaanya, hal ini
dilihat dan dirasakan oleh seluruh keluarga jeroan. Kalau hal ini dibiarkan
berlarut bisa mengancam tatanan kehidupan yang di wariskan oleh pengelingsir dan
menjadi kewajiban generasi penerus keluarga jeroan untuk mempertahankan pamor
yang telah ditorehkan oleh pengelingsir menjadi pudar dan bahkan hilang,
pembangunan yang tidak tertata dengan baik sehingga sikut umah tua bali yang
bedasarkan atas asta kosala kosali menjadi hancur, akibatnya aura pekarangan semakin
sumpek menjadi kurang baik. Karena pada masa ini tidak ada orang yang
mengkoordinir keluarga, sehingga seluruh keturunan keluarga jeroan merasa
memiliki hak dan sering melupakan kewajibannya.
Atas keberanian dan prakarsa I
Gede Ngurah Sunatha, mengajak mengajak keluarga jeroan untuk mengadakan paruman
untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban dan tanggung jawab
sebagai generesi penerus keluarga jeroan, momen yang digunakan oleh I Gede
Ngurah Sunatha karena bermaksud ngaturang karya ngenteg linggih di merajan,
kemudian I Gede Ngurah Sunatha dalam paruman itu, mohon ijin kepada keluarga
besar akan ngaturan karya ngenteg
linggih di pemerajan di tahun 2009 dan keluarga dapat menyetujui, namun stelah
mendapatkan persetujuan keluarga untuk ngaturan karya I Gede Ngurah Sunatha
jatuh sakit jantung koronel, dan berobat ke jakarta di Rumah Sakit Harapan Kita
untuk menjalani operasi bedah jantung, sedangkan waktu pelaksanaan karya
semakin dekat, maka seluruh persiapan karya dipersiapan oleh keluarga jeroan, I
Gede Ngurah Sunatha kembali dan sembuh selanjutnya dapat melaksanakan karya
ngenteg linggih.
Setelah ngaturang karya inilah
mulai ada petunjuk jalan untuk membentuk pengurus keluarga jeroan gede
kurubaya, dengan struktur pengurus saat itu : Penasehat I Gede Rai Mandia,
Ketua I Gede Ngurah Sunatha,Sekretaris I Gede Sukarma, Bendahara I Gede Putu
Yasa, Pemangku I Gede Putu Wirata. Dengan telah terbentuknya pengurus keluarga
jeroan secara bertahap dibuatkan beberapa pedoman dan pakem keluarga yaitu
tentang pelaksanaan Dewa Yadnya, Manusia Yadnya, Pitra Yadnya dan Buta Yadnya
keluarga jeroan kurubaya. Mulailah kegiatan dan tanggung jawab keluarga jeroan
dapat terorganisir, tetapi masih perlu penyempurnaan-penyempurnaan terus sesuai
berjalannya waktu dan jaman.
“ MASA PENATAAN ASET KELUARGA
JEROAN KURUBAYA DARI TERSIRAT MENJADI TERSURAT “
Tutuntukan masa yang semakin admnistratif dan semakin modern memacu
pengurus keluarga jeroan untuk menjadikan aset-aset keluarga yang dari tersirat
menjadi tersurat, adapun maksudnya adalah agar tidak menimbulkan hal-hal tidak
diinginkan pada masa-masa yang akan datang setelah pengelingsir jeroan tidak
ada, karena tidak ada petunjuk yang jelas dipake pedoman oleh generasi penerus /
parisentana keluarga jeroan tentang hak dan kewajibanya yang menjadi tanggung
jawab dan yang harus mereka pikul dan lestarikan. Mulailah ditulis tentang
struktur keluarga Siluh Nyoman Jati bagaimana hak dan kewajibannya karena
beliau tidak memiliki keturunan, disepakati bahwa selama beliau hidup seluruh
haknya diberikan untuk digunakan sedangkan kewajibannya berupa yadnya di
merajan dan di pahariyangan di bebaskan, apabila suatu saat beliau meninggal
seluruh sisa hak waris yang beliau terima menjadi due tengah akan dibagi
menjadi tiga bagian yaitu keluarga Guru I Gede Regug, keluarga I Gede Nyoman
Rai Pageh dan Keluarga I Gede Giri. Setiap diadakan paruman keluarga jeroan,
keputusan tentang hal-hal yang penting menyakut
hak dan kewajiban keluarga dibuatkan Notulen paruman, dimana notulen ini
merupakan bisama yang harus ditaati oleh keluarga jeroan. Untuk mendapatkan
rasa keadilan bersama terkait dengan penataan dan mengadministrasikan/mensertifikatan
aset-aset maka disepakati, pembagian waris dan harta pengelingsir dibagi
berdasarkan lokasi, artinya setiap lokasi akan dibagi berdasarkan luasnya
secara merata, sebagai contoh carik dangin tegalannya yang selama ini di berikan
kepada keluarga Guru Gede Regug, Ume Carik Aban di berikan kepada keluarga Guru
I Gede Nyoman Pageh sedangkan Ume Diwang Dajan Setra Perang di berikan kepada
keluarga Guru I Gede Giri, masing-masing lokasi tersebut akan dibagi menjadi 3
bagian atas nama keturunan Guru Gede Regug, Guru I Gede Nyoman Pageh dan Guru I
Gede Giri, demikian juga halnya untuk tegalan yang luasnya 9.000M2 dan sisa
bagian waris Siluh Nyoman Jati.
Kegiatan dewa yadnya di merajan dan pekarangan jeroan sudah terorganisir
dengan baik dimana dilaksanakan oleh salah seorang keluarga jeroan, dimana
seluruh keluarga jeroan wajib membayar punia secara proporsional. Disamping itu
diharapkan keluarga yang lagi beruntung dapat menyisihkan keuntungannya untuk ngaturan
punia ke merajan agar kegiatan yadnya dapat berjalan baik.
Untuk memenuhi kebutuhan biaya upakara disepakati membuat usaha
keluarga, diharapkan dari hasil usaha tersebut dapat memenuhi sebagian
kebutuhan upakara yadnya, dengan mengoftimalkan aset-aset yang ada, sesuai
peruntukannya tanah pekarangan jeroan/Tebo kauh, dalam bentuk usaha rumah kost
sederhana, penggak pedagang dan sewa parkir.
Saat ini Siluh Nyoman Jati dalam keadaan sakit maka disepakati keluarga
dapat membantu dan merawatnya, seluruh biaya yang ditimbulkan akibat perawatannya
dan pembangunan usaha keluarga akan diambilkan
dari hak waris yang diterimanya berupa tegalan seluas 2.250 M2 dihibah dalam
bentuk saham keluarga. Demikian selanyang pandang tentang keluarga jeroan gede
kurubaya
|
Komentar
Posting Komentar